Pada 24 Juli 2019, di Universitas Surya, Tangerang diadakan acara makan-makan bersama dalam rangka penutupan semester. Mahasiswa-mahasiswi Teknologi Pangan angkatan 2016 dan 2017 menghidangkan berbagai hidangan buatan mereka sendiri berupa makanan-makanan tradisional khas Indonesia dari berbagai wilayah Indonesia yang unik dan jarang orang dengar di wilayah lain hingga produk-produk makanan kering yang dibuat untuk bisnis skala industri rumah tangga. Para hadirin seperti orang tua mahasiswa, para dosen, staff universitas dan mahasiwa-mahasiswi sekalian dapat mencicipi masing-masing hidangan tersebut.
Ada nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya seperti sambal kentang, tempe orek, telur balado, bihun, sayur urap, dan ingkung ayam yang merupakan makanan khas Jawa. Ada lemang yang lengkap bersama dengan tapainya, sebagai makanan khas Melayu. Ada juga dihidangkan masakan ikan patin dalam bambu, yang cara memasaknya sama seperti lemang, yaitu memasukan bahan-bahan kedalam bambu lalu dibakar.
![]() |
| Tumpeng Jawa |
![]() |
| Ingkung Ayam |
![]() |
| Lemang |
![]() |
| Patin bakar dalam bambu |
Adapun dihidangkan arsik dan naniura yang keduanya merupakan hidangan ikan khas Batak. Keduanya sama-sama menggunakan banyak rempah-rempah, bumbunya hampir mirip, terutama kunyit. Bedanya, cara membuat arsik itu ikannya dikukus atau direbus, sementara naniura tidak diberi perlakuan pemanasan apapun. Naniura juga dibuat menggunakan asam jungga yang tidak dipakai dalam pembuatan arsik. Asam jungga dapat membunuh mikroba patogen yang tidak tahan terhadap asam. Rempah-rempah yang digunakan juga memiliki zat antimikroba yang dapat membunuh bakteri patogen pada ikan sehingga naniura aman untuk dikonsumsi.
![]() |
| Arsik (kiri) dan naniura (kanan) |
Turut pula disajikan papeda beserta ikan kuah kuningnya yang merupakan makanan khas Papua. Lalu ada juga sop Konro yang merupakan makanan khas Makassar, dan ada Kaledo yang merupakan makanan khas suku Kaili, khususnya di Palu dan Donggala. Kaledo dimakan bersama singkong dan perasan jeruk nipis.
![]() |
| Papeda dan ikan kuah kuning |
![]() |
| Sop konro |
![]() |
| Kaledo |
Sementara itu, produk-produk olahan industri rumah tangga yang dipamerkan adalah empal batokok, lempok durian (mirip dodol durian tetapi dibuat tanpa tepung), dan sambal lingkung (abon ikan). Dengan diadakannya acara ini, para hadirin tidak hanya dapat mencicipi makanan-makanan lezat khas Indonesia, melainkan juga dapat memperluas wawasan pengetahuan tentang makanan Indonesia dan turut serta melestarikan makanan-makanan khas Indonesia.
![]() |
| Sambal lingkung |
![]() |
| Nasi yang diberi empal batokok |
![]() |
| Lempok durian |
![]() |
| Foto bersama dosen dan para orang tua |
Ada 2 macam bentuk pengaruh budaya negara-negara lain terhadap suatu negara. Berdasarkan ruangguru.com, asimilasi adalah salah satu bentuk penerimaan atau penyesuaian masyarakat terhadap perubahan sosial atau budaya baru yang datang. Asimilasi menyebabkan ciri khas budaya asli hilang dan terbentuknya unsur budaya baru akibat berpadunya unsur-unsur budaya luar dengan unsur-unsur budaya lokal.
Seperti yang telah saya tulis di postingan sebelumnya, makanan-makanan yang ada di Indonesia saat ini juga tercipta karena adanya pengaruh dari bangsa-bangsa lain yang datang ke Nusantara. Sebagai contoh makanan hasil asimilasi budaya luar adalah rendang. Rendang memiliki ciri khas menggunakan banyak rempah-rempah seperti pada masakan-masakan India. Akan tetapi, rendang tidak berasal dari India, melainkan dari Padang, Sumatera Barat.
Sementara itu, akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih, atau proses berpengaruhnya budaya asing terhadap budaya lokal sehingga sebagian masyarakat lokal dapat menerima dan menerapkan budaya asing tersebut dan sebagian lagi menolak. Di dunia kuliner, akulturasi budaya dapat dilihat pada makanan-makanan seperti bakcang. Bakcang adalah makanan khas tradisional China. Akan tetapi karena banyaknya masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, maka bakcang pun menjadi makanan khas Indonesia juga dan tidak menjadi sesuatu makanan yang baru atau berbeda dari bakcang asli di China.
Jamba gadang adalah 1 paket makanan yang terdiri dari 1 mangkuk nasi yang ditutup daun, kemudian
diatasnya terdapat piring berisi lamang (biasanya disediakan lengkap bersama tapainya), galamai dan kalio daging yang juga
ditutup daun, kemudian disamping mangkuk nasi terdapat makanan pendamping
seperti 1 ekor ikan pindang atau pangek, 1 mangkuk gulai cubadak, perkedel,
pinyaram dan kue bolu. Semuanya disusun diatas talam dan ditutup dengan tudung
saji lalu ditutup lagi dengan dulamak
(kain dengan sulaman benang emas). Jamba ini dibawa setiap kali ada acara makan bajamba / makan bersama yang diadakan setiap perayaan besar, seperti tradisi mengunjungi rumah mertua, manjapuik marapulai, ataupun perayaan hari-hari raya agama Islam bagi masyarakat suku Minangkabau.
Membawa ataupun menghidangkan lemang saat mengunjungi rumah orang atau saat ada pesta / perayaan sudah menjadi kebiasaan masyarakat suku Minangkabau. Sebagai contoh, menantu yang membawa lemang untuk mertua pada saat kunjungan akan lebih dihargai. Hal ini disebabkan karena proses pembuatan lemang rumit. Persiapan untuk membuat lemang membutuhkan waktu yang lama dan melibatkan banyak orang dalam proses pembuatannya. Bila lemang tidak ada, biasanya akan dijadikan bahan omongan/ gosip oleh tamu yang dihidangkan sajian makanan/ tamu yang dikunjungi rumahnya.
Lemang rasanya asin dan gurih. Tetapi sangat membosankan bila dimakan tanpa lauk-pauk atau manisan. Tapai ketan hitam yang rasanya manis, asam, dan pahit dari alkohol cocok bila dimakan bersama lemang sehingga rasanya menjadi lengkap (ada manis, asin, asam, pahit, dan gurih). Dengan demikian, sebagian besar masyarakat Minang menganggap lemang tidak lengkap bila tidak dimakan bersama dengan tapai. Dengan demikianlah lemang biasa disajikan dengan tapai dan dikenal sebagai satu hidangan yang disebut lamang tapai.
![]() |
| Wanita yang membawa jamba diatas kepalanya. Sumber: wikipedia.org |
Lemang rasanya asin dan gurih. Tetapi sangat membosankan bila dimakan tanpa lauk-pauk atau manisan. Tapai ketan hitam yang rasanya manis, asam, dan pahit dari alkohol cocok bila dimakan bersama lemang sehingga rasanya menjadi lengkap (ada manis, asin, asam, pahit, dan gurih). Dengan demikian, sebagian besar masyarakat Minang menganggap lemang tidak lengkap bila tidak dimakan bersama dengan tapai. Dengan demikianlah lemang biasa disajikan dengan tapai dan dikenal sebagai satu hidangan yang disebut lamang tapai.
Budaya Makanan
Pengaruh Budaya Melayu, Tionghoa (China), India, dan Eropa di Indonesia Ditinjau dari Makanan Tradisionalnya
1:51 AM
Makanan-makanan khas yang ada di Indonesia saat ini, merupakan makanan-makanan yang diciptakan oleh berbagai suku dan ada juga yang menggunakan bahan-bahan yang tidak asli dari Indonesia ataupun dipengaruhi budaya masyarakat dari luar Indonesia.
Sebagai contoh, makanan-makanan di Aceh sangat dipengaruhi oleh bumbu-bumbu India, misalnya mie Aceh yang aromanya khas kari dan kopi Aceh yang teknik pembuatannya sama seperti di India. Asam sunthi, daun gegareng, dan temurui yang digunakan dalam masakan-masakan Aceh juga digunakan dalam masakan India.
Masakan di Riau, Bangka Belitung, dan Lampung banyak dipengaruhi oleh budaya China dilihat dari adanya makanan fermentasi seperti belacan. Belacan ini di Jawa disebut sebagai terasi karena pengaruh aksen Inggris. Ada perbedaan antara terasi Lampung dan terasi Bangka. Terasi Lampung cenderung lebih encer, sedangkan terasi Bangka cenderung lebih kering (padat seperti pasta).
Di Bangka Belitung, daratannya banyak pasir sehingga tumbuhan hampir habis dan banyak hewan seperti cacing wak-wak yang biasanya dikeringkan, lalu diasinkan dan dijadikan seperti mie. Sementara karena berada di daerah pesisir Pulau Sumatera, makanannya pun sebagian besar berbahan dasar hewan laut (seafood), misalnya bekasang dan rusip (ikan teri dimasukkan ke botol, dikasih garam dan terkadang ditambah cuka sedikit).
Ada 2 macam sub-suku Tionghoa yang ada di Indonesia, yaitu Hakka dan Hokkian. Masyarakat Tionghoa di Bangka, sebagian besar merupakan Tionghoa Hakka; sedangkan di Medan (Sumatera Utara), sebagian besar merupakan Tionghoa Hokkian. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan aksen dan dialek bahasanya. Makanan-makanan khas yang ada di Medan hingga saat ini merupakan hasil perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa Hokkian, contoh chi cong fan, kwetiau, dan laksa.
Cara masak kopi Medan juga sama seperti kopi Aceh, yaitu bubuk kopi diseduh, disaring pakai saringan yang panjangnya seperti kaus kaki panjang dan ditampung, kemudian disaring dan ditampung di wadah lain dengan gerakan seperti akrobat (terkadang ada gosip kalau ditambah ganja karena rasanya bikin nagih).
Kecombrang / onje / rias yang banyak terdapat di daerah Medan, banyak juga terdapat di daerah Jawa Barat. Hidangan ikan di Jawa Barat kebanyakan menggunakan ikan darat/ ikan air tawar seperti Gurame, Mujair dan Nila yang dijadikan pepes memakai daun belinjo, daun kemangi, dsb.
Wilayah Betawi juga dulunya merupakan wilayah pelabuhan terkenal yang disebut sebagai Sunda Kelapa / Batavia, tempat perahu-perahu besar dari berbagai wilayah bersinggah. Makanan-makanan khas Betawi pun bumbunya sangat beraneka dan campur aduk karena merupakan hasil perpaduan budaya Tionghoa, Bugis/ Makassar, Sumatera, Melayu, dan Eropa. Misalnya, gado-gado, pecel, ketoprak, soto Betawi, sayur asem.
Di Banten, masakan-masakannya adalah khas suku Sunda, yaitu lalapan, pepes, dan sate Bandeng (ikan Bandeng diambil dagingnya, disuwir, dicampur tepung, dimasukkin lagi ke badan ikan terus ditusuk pakai bambu).
Sementara itu, di daerah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, makanan-makanannya merupakan hasil perpaduan budaya makanan Tionghoa dan Arab dilihat dari jenis makanannya yang banyak sup dan soto daging. Misalnya di Cirebon ada empal gentong dan cumi kuah hitam. Di Kudus ada soto Kudus, dan di Semarang ada Lumpia Semarang.
Banyumas terkenal akan mendoan dan sroto sokka. Di Tegal dan Pekalongan, banyak soto yang disebut sauto.
Ada cerita mengenai asal usul lumpia Semarang. Dahulu kala ada seorang laki-laki pendatang dari daerah China yang membuat lumpia di Semarang. Akan tetapi, ternyata di Semarang sudah ada seorang wanita yang juga lihai membuat lumpia. Akhirnya sang pria dan wanita tersebut saling bersaing membuat lumpia di Semarang. Lama-lama sang pria dan wanita pun saling jatuh cinta, kemudian akhirnya menikah dan membuat lumpia bersama.
Di Solo (Surakarta) ada nasi liwet (kayak nasi campur China), sup-supan seperti tengkleng solo, gulai, dan timlo solo (mirip Chinese soup). Kemudian ada juga bestik Solo yang tercipta karena pengaruh bangsa Eropa.
Di Jogjakarta juga ada gudeg (perpaduan pengaruh berbagai suku), bakpia yang merupakan pengaruh dari kue Pia Tionghoa, Bakmi Jawa (mie pertama kali diciptakan oleh orang China), dan Buntil (petai Cina yang dicampur kelapa pakai beberapa jenis bambu, dibungkus daun, terkadang ada yang menambahkan telur agar menyatu, lalu dikukus).
Di Blora juga ada sate Blora, sate juga terdapat banyak di China dan Jepang. Sate Blora ini dagingnya besar-besar, ditusuk pakai bambu dan dimakan pakai kuah.
Di Surabaya (Jawa Timur) banyak rawon, soto Ambengan, petis, rujak cingur, kupang (kerang kecil). Di Madura ada Bubur Madura dan Sate Madura.
Bali terkenal akan bumbu Bali dan sambal Matah (pemakaian banyak rempah-rempah dalam masakannya dan banyaknya umat beragama Hindu menunjukkan pengaruh budaya India yang sangat kental). Lombok terkenal akan ayam Taliwang-nya. Tadinya ayam Taliwang dibuat oleh orang dari Sumba yang kemudian berpindah dan menetap di Lombok sehingga akhirnya ayam ini terkenal di Lombok.
Di Pontianak, Kalimantan Barat juga banyak masyarakat Tionghoa Hakka, contoh makanan yang dipengaruhi budaya Tionghoa ini adalah tau suan dan soto Banjar.
Kalimantan Timur (Samarinda, Balikpapan), terkenal akan kepiting-kepiting lunaknya, meski demikian, mereka tidak ada makanan khasnya. Orang Jakarta yang mampir kesini banyak membeli kepiting tersebut.
Sulawesi Selatan terkenal akan Es Palu Butung, Coto Makassar, dan Sop Konro. Maluku adalah wilayah pertama di Indonesia yang disinggahi bangsa Portugis untuk mencari buah pala. Belanda juga datang ke wilayah ini setelah bangsa Portugis untuk berebut buah pala.
Di Timor-Timur, banyak orang Sunda yang berjualan sate, masakan-masakannya mirip masakan Sunda.
Demikianlah dari macam-macam makanan yang disebutkan di setiap daerahnya menunjukkan budaya makanan di Indonesia mendapat pengaruh dari budaya makanan Melayu, Tionghoa (China), India, dan Eropa.
![]() |
| Kue Ang Ku - Kue khas China yang menjadi makanan tradisional di Indonesia. Sumber: vulcanpost.com |
Sebagai contoh, makanan-makanan di Aceh sangat dipengaruhi oleh bumbu-bumbu India, misalnya mie Aceh yang aromanya khas kari dan kopi Aceh yang teknik pembuatannya sama seperti di India. Asam sunthi, daun gegareng, dan temurui yang digunakan dalam masakan-masakan Aceh juga digunakan dalam masakan India.
Masakan di Riau, Bangka Belitung, dan Lampung banyak dipengaruhi oleh budaya China dilihat dari adanya makanan fermentasi seperti belacan. Belacan ini di Jawa disebut sebagai terasi karena pengaruh aksen Inggris. Ada perbedaan antara terasi Lampung dan terasi Bangka. Terasi Lampung cenderung lebih encer, sedangkan terasi Bangka cenderung lebih kering (padat seperti pasta).
Di Bangka Belitung, daratannya banyak pasir sehingga tumbuhan hampir habis dan banyak hewan seperti cacing wak-wak yang biasanya dikeringkan, lalu diasinkan dan dijadikan seperti mie. Sementara karena berada di daerah pesisir Pulau Sumatera, makanannya pun sebagian besar berbahan dasar hewan laut (seafood), misalnya bekasang dan rusip (ikan teri dimasukkan ke botol, dikasih garam dan terkadang ditambah cuka sedikit).
Ada 2 macam sub-suku Tionghoa yang ada di Indonesia, yaitu Hakka dan Hokkian. Masyarakat Tionghoa di Bangka, sebagian besar merupakan Tionghoa Hakka; sedangkan di Medan (Sumatera Utara), sebagian besar merupakan Tionghoa Hokkian. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan aksen dan dialek bahasanya. Makanan-makanan khas yang ada di Medan hingga saat ini merupakan hasil perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa Hokkian, contoh chi cong fan, kwetiau, dan laksa.
Cara masak kopi Medan juga sama seperti kopi Aceh, yaitu bubuk kopi diseduh, disaring pakai saringan yang panjangnya seperti kaus kaki panjang dan ditampung, kemudian disaring dan ditampung di wadah lain dengan gerakan seperti akrobat (terkadang ada gosip kalau ditambah ganja karena rasanya bikin nagih).
Kecombrang / onje / rias yang banyak terdapat di daerah Medan, banyak juga terdapat di daerah Jawa Barat. Hidangan ikan di Jawa Barat kebanyakan menggunakan ikan darat/ ikan air tawar seperti Gurame, Mujair dan Nila yang dijadikan pepes memakai daun belinjo, daun kemangi, dsb.
Wilayah Betawi juga dulunya merupakan wilayah pelabuhan terkenal yang disebut sebagai Sunda Kelapa / Batavia, tempat perahu-perahu besar dari berbagai wilayah bersinggah. Makanan-makanan khas Betawi pun bumbunya sangat beraneka dan campur aduk karena merupakan hasil perpaduan budaya Tionghoa, Bugis/ Makassar, Sumatera, Melayu, dan Eropa. Misalnya, gado-gado, pecel, ketoprak, soto Betawi, sayur asem.
Di Banten, masakan-masakannya adalah khas suku Sunda, yaitu lalapan, pepes, dan sate Bandeng (ikan Bandeng diambil dagingnya, disuwir, dicampur tepung, dimasukkin lagi ke badan ikan terus ditusuk pakai bambu).
Sementara itu, di daerah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, makanan-makanannya merupakan hasil perpaduan budaya makanan Tionghoa dan Arab dilihat dari jenis makanannya yang banyak sup dan soto daging. Misalnya di Cirebon ada empal gentong dan cumi kuah hitam. Di Kudus ada soto Kudus, dan di Semarang ada Lumpia Semarang.
Banyumas terkenal akan mendoan dan sroto sokka. Di Tegal dan Pekalongan, banyak soto yang disebut sauto.
Ada cerita mengenai asal usul lumpia Semarang. Dahulu kala ada seorang laki-laki pendatang dari daerah China yang membuat lumpia di Semarang. Akan tetapi, ternyata di Semarang sudah ada seorang wanita yang juga lihai membuat lumpia. Akhirnya sang pria dan wanita tersebut saling bersaing membuat lumpia di Semarang. Lama-lama sang pria dan wanita pun saling jatuh cinta, kemudian akhirnya menikah dan membuat lumpia bersama.
Di Solo (Surakarta) ada nasi liwet (kayak nasi campur China), sup-supan seperti tengkleng solo, gulai, dan timlo solo (mirip Chinese soup). Kemudian ada juga bestik Solo yang tercipta karena pengaruh bangsa Eropa.
Di Jogjakarta juga ada gudeg (perpaduan pengaruh berbagai suku), bakpia yang merupakan pengaruh dari kue Pia Tionghoa, Bakmi Jawa (mie pertama kali diciptakan oleh orang China), dan Buntil (petai Cina yang dicampur kelapa pakai beberapa jenis bambu, dibungkus daun, terkadang ada yang menambahkan telur agar menyatu, lalu dikukus).
Di Blora juga ada sate Blora, sate juga terdapat banyak di China dan Jepang. Sate Blora ini dagingnya besar-besar, ditusuk pakai bambu dan dimakan pakai kuah.
Di Surabaya (Jawa Timur) banyak rawon, soto Ambengan, petis, rujak cingur, kupang (kerang kecil). Di Madura ada Bubur Madura dan Sate Madura.
Bali terkenal akan bumbu Bali dan sambal Matah (pemakaian banyak rempah-rempah dalam masakannya dan banyaknya umat beragama Hindu menunjukkan pengaruh budaya India yang sangat kental). Lombok terkenal akan ayam Taliwang-nya. Tadinya ayam Taliwang dibuat oleh orang dari Sumba yang kemudian berpindah dan menetap di Lombok sehingga akhirnya ayam ini terkenal di Lombok.
Di Pontianak, Kalimantan Barat juga banyak masyarakat Tionghoa Hakka, contoh makanan yang dipengaruhi budaya Tionghoa ini adalah tau suan dan soto Banjar.
Kalimantan Timur (Samarinda, Balikpapan), terkenal akan kepiting-kepiting lunaknya, meski demikian, mereka tidak ada makanan khasnya. Orang Jakarta yang mampir kesini banyak membeli kepiting tersebut.
Sulawesi Selatan terkenal akan Es Palu Butung, Coto Makassar, dan Sop Konro. Maluku adalah wilayah pertama di Indonesia yang disinggahi bangsa Portugis untuk mencari buah pala. Belanda juga datang ke wilayah ini setelah bangsa Portugis untuk berebut buah pala.
Di Timor-Timur, banyak orang Sunda yang berjualan sate, masakan-masakannya mirip masakan Sunda.
Demikianlah dari macam-macam makanan yang disebutkan di setiap daerahnya menunjukkan budaya makanan di Indonesia mendapat pengaruh dari budaya makanan Melayu, Tionghoa (China), India, dan Eropa.
Ingkung ayam merupakan salah satu makanan yang hadir dalam berbagai upacara tradisional masyarakat Jawa bersama dengan tumpeng. Ingkung ayam ini biasanya disajikan sebagai sesaji. Sesaji dipersembahkan kepada Tuhan sebagai ucapan syukur sehingga selalu dihidangkan pada acara syukuran seperti acara untuk anak yang baru naik kelas atau perayaan adanya kelahiran.
Sebelum dimasak menjadi ingkung ayam, ayam dibersihkan dulu dari bulu-bulu dan jeroannya sebagai simbol bahwa manusia harus menyucikan diri dulu luar dan dalam dari sifat-sifat buruk. Kemudian, ayam terlebih dahulu diikat pada bagian kepala, sayap, dan kakinya sebagai simbol bahwa sifat buruk manusia harus diikat agar tidak kembali melakukan hal buruk. Selain itu, ayam diikat dengan posisi seperti sedang berdoa.
Ayam yang diikat menandakan manusia yang sudah dibersihkan dan sudah kembali suci harus duduk diam dan berdoa untuk mohon petunjuk dari Tuhan. Ayam yang sudah diikat akan terlihat seperti manusia yang sedang sholat karena bagian kepalanya menunduk. Posisi ayam ini diartikan sebagai manusia harus berserah diri pada Tuhan. Ingkung ayam juga dapat diartikan sebagai simbol untuk memohon kepada Gusti Allah supaya dijauhkan dari dosa dan kesalahan, serta menunjukkan sifat pasrah, berbakti dan tunduk kepada Gusti Allah.
![]() |
| Ingkung Goreng. Sumber: http://ingkungkuali.com |
Papeda adalah makanan khas Papua yang terbuat dari tepung sagu yang dicampur dengan air panas sehingga terbentuk suspensi yang lengket. Papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan kuah kuning, yaitu ikan yang dimasak dengan sayuran dan kuah kuning yang memiliki rasa asam dan sedikit pedas. Cara menikmati papeda adalah dengan menggulung papeda lengket dengan sumpit atau gata-gata (garpu bambu) dan mencelupkannya ke dalam kuah ikan.
![]() |
| Ikan kuah kuning, papeda, dan gata-gata. Sumber: indonesiakaya.com |
Banyaknya pohon sagu di Papua menyebabkan papeda menjadi makanan pokok mereka. Bagi masyarakat pesisir, terutama Sentani, papeda dijadikan alat untuk berdamai. Papeda itu sendiri merupakan singkatan dari Papua Penuh Damai. Ketika ingin berdamai setelah terjadi pertikaian, biasanya dilakukan makan bersama. Dalam acara makan bersama tersebut, papeda disajikan dalam wadah besar sehingga semua orang yang hadir dapat menikmati papeda bersama-sama.
Papeda sering disajikan di berbagai upacara di Raja Ampat (ujung barat laut lempeng kepala burung di Papua Barat), misalnya Watani Kame dan pernikahan. Watani Kame adalah upacara untuk memperingati berakhirnya siklus kematian seseorang. Di upacara perkawinan, papeda dijadikan persembahan dari keluarga wanita. Papeda akan dikonsumsi oleh kedua mempelai sebagai simbol bahwa pernikahan mereka resmi. Mereka percaya bahwa sagu dalam papeda memiliki peran sebagai mediator antara bumi dan rakyatnya yang dapat memberikan kesuburan bagi seseorang.
Di Inanwatan, Papua, papeda dihidangkan pada upacara kelahiran anak pertama dan dihidangkan bersama dengan lauk sepert daging babi. Di Pulau Seram (Maluku), papeda dijadikan sebagai hidangan pada perayaan ritual suci pubertas perempuan oleh etnis nuaulu. Sementara bagi etnis hualu, wanita menstruasi yang memasak papeda dianggap tabu karena wanita menstruasi dianggap kotor.
Papeda sering disajikan di berbagai upacara di Raja Ampat (ujung barat laut lempeng kepala burung di Papua Barat), misalnya Watani Kame dan pernikahan. Watani Kame adalah upacara untuk memperingati berakhirnya siklus kematian seseorang. Di upacara perkawinan, papeda dijadikan persembahan dari keluarga wanita. Papeda akan dikonsumsi oleh kedua mempelai sebagai simbol bahwa pernikahan mereka resmi. Mereka percaya bahwa sagu dalam papeda memiliki peran sebagai mediator antara bumi dan rakyatnya yang dapat memberikan kesuburan bagi seseorang.
Di Inanwatan, Papua, papeda dihidangkan pada upacara kelahiran anak pertama dan dihidangkan bersama dengan lauk sepert daging babi. Di Pulau Seram (Maluku), papeda dijadikan sebagai hidangan pada perayaan ritual suci pubertas perempuan oleh etnis nuaulu. Sementara bagi etnis hualu, wanita menstruasi yang memasak papeda dianggap tabu karena wanita menstruasi dianggap kotor.
"Kaki Lembu Donggala", begitulah masyarakat awam mengartikan makanan khas suku Kaili di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah ini. Sesuai dengan julukannya, kaledo adalah sup tulang kaki sapi dengan kuah kaldu yang menyegarkan karena perpaduan rasa gurih, asam, dan sedikit pedasnya. Seperti yang telah saya sampaikan di postingan sebelumnya (klik disini untuk melihat postingan sebelumnya tentang kaledo), kaledo terdiri dari kaldu tulang kaki dan daging sapi yang dibumbui dengan sari asam jawa mentah, cabai, dan garam. Biasanya kaledo disantap bersama singkong atau pisang kukus. Di postingan kali ini, saya akan menjelaskan tentang sejarah dan budaya kaledoo! Yuk, disimak!
![]() |
| Kaledo. Sumber: Dokumen pribadi. |
Filosofi Kaledo
"Kaledo" berasal dari bahasa Kaili, yaitu kata “Ka” yang artinya "tidak" dan “Ledo” yang artinya "keras". Makanan khas ini banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari-hari besar, seperti Lebaran atau Idul Fitri yang disajikan dengan Burasa (nasi santan yang dibungkus daun pisang).
Ada kisah bahwa dulu ada seorang suami dari suku Kaili yang telat datang mengambil potongan daging sapi sewaktu seorang dermawan membagi-bagikan potongan daging sapi; dan pria ini pun hanya mendapatkan bagian kakinya saja yang banyak tulangnya. Kemudian, sang suami pun membawa kaki sapi tersebut ke rumah untuk dijadikan suatu hidangan oleh istrinya. Saat sedang suaminya mencicipi masakan buatan istrinya, istrinya pun bertanya “Naka’a?” (keras), dan suaminya menjawab “Ledo” (tidak). Demikianlah tercipta nama makanan "kaledo" yang artinya "tidak keras".
- Masyarakat suku kaili masih sangat percaya terhadap keberadaan jin/ setan. Dengan makan kaledo, masyarakat percaya bahwa mereka tidak akan diganggu oleh jin/ setan, karena jeruk nipis dan garam yang digunakan dalam pembuatan Kaledo dapat digunakan sebagai penangkal setan/jin.
- Kaledo yang dimasak menggunakan tungku khas Kaili (yang disebut sebagai talusi) akan terasa lebih lezat.
- Masyarakat kaili memiliki tradisi maya-nuose, yaitu menggantungkan nasi yang dibungkus dengan daun pisang pada keempat sudut tungku baru. Tradisi ini memiliki makna agar orang yang makan masakan dari tungku tersebut cepat merasa kenyang walau jumlah yang dimakan tidak terlalu banyak, sehingga dapat menghemat makanan.
Budaya Makanan
Asal Usul Kentang di Dunia: Makanan yang Berperan dalam Penciptaan Kehidupan Modern
9:00 AM
Kentang adalah umbi-umbian yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral essensial. Mungkin tidak jarang kita menegonsumsi kentang, dan kentang mudah sekali didapatkan di pasaran. Tapi tahukah kalian bahwa peradaban / kebudayaan manusia modern tidak akan ada tanpa kentang?
Berdasarkan Leo Bear - McGuinness pada tayangan video Ted Ed Youtube Channel "History through the eyes of potato", kentang pertama kali dibudidayakan 8000 tahun lalu oleh orang Peru di pegunungan Andes di Amerika Selatan. Kentang merupakan sumber energi yang sempurna untuk kaum-kaum buruh suku Inka disitu yang pekerjaannya adalah berladang, menambang di pegunungan Rocky, dan membangun peradaban dengan ilmu dan teknologi yang canggih sebagai Kerajaan Inca yang Agung.
Seorang pelaut berkebangsaan Spanyol adalah orang yang pertama kali membawa kentang ke Eropa saat kembali dari pegunungan Andes. Kentang dianggap sampah oleh orang Eropa karena mereka menganggap kentang bentuknya aneh, dekil dan rasanya hambar serta tanamannya mirip seperti tanaman Belladona yang merupakan tanaman yang menghasilkan buah beracun yang dipakai sebagai hiasan ataupun dimakan berrynya untuk hiburan (kurang lebih seperti narkotika, tetapi efeknya berbeda).
Butuh 200 tahun sebelum akhirnya kentang menjadi makanan pokok di seluruh wilayah Eropa meskipun kentang hanya dimakan oleh masyarakat yang kelas ekonominya rendah (miskin). Pada tahun 1750, berkat melimpahnya kentang di Eropa, petani tidak ikut mengalami kelaparan akibat rendahnya produksi gandum dan biji-bijian sehingga populasi mereka terus bertumbuh (pada saat itu bangsa Eropa dilanda Grain Famines). Alhasil, Kerajaan Jerman, Inggris dan Belanda terbentuk dari kelompok masyarakat yang populasinya terus bertambah, yaitu mereka yang tadinya merupakan petani, buruh, dan tentara. Hal ini membuat belahan Barat bumi menjadi tempat kekuasaan 3 kerajaan tersebut.
Tidak semua negara-negara di Eropa membentuk kerajaan. Mayarakat Irlandia populasinya meningkat drastis (dari 1 juta menjadi 8 juta orang) setelah mengadopsi kentang sebagai makanan pokok mereka sejak tahun 1590 sampai 1845. Akan tetapi, pada tahun 1845-1852, penyakit hawar kentang merusak sebagian besar tanaman kentang di Irlandia yang menyebabkan kelaparan masyarakat Irlandia (peristiwa ini disebut Irish Potato Famine, salah satu kelaparan paling mematikan di dunia). Sekitar 1 juta orang Irlandia meninggal akibat kelaparan dan 2 juta orang meninggalkan negara asalnya.
Budidaya tanaman kentang tidak berakhir disitu, pertumbuhan tanaman kentang pun pulih kembali dan populasi masyarakat Eropa meningkat di setiap tahunnya sejak tahun 1850-1910 yang dipicu oleh kedatangan imigran-imigran asal Irlandia di Eropa. Populasi di Eropa pun menjadi besar, makmur, dan terjaga (sustainable). Mereka mampu mengoperasikan pabrik-pabrik yang terus bermunculan saat itu yang mendorong terciptanya kehidupan modern saat ini dengan berbagai teknologi canggih melalui revolusi industri.
Jadi, tak bisa dibayangkan bila di dunia ini tidak ada kentang. Bila kentang tidak ada, bangsa Eropa dan para sekutunya mungkin sudah kalah waktu perang dunia ke-2.
Berikut ini cuplikan video yang saya rangkum di postingan ini:
Lemang disebut juga lamang oleh masyarakat Minang. Di Minangkabau, tidak jarang ditemukan malamang atau membuat lemang setiap perayaan-perayaan besar umat Islam. Hal ini pada awalnya disebabkan oleh seorang ulama terkenal di Pariaman, Sumatera Barat yang mengajak masyarakat untuk tidak lagi mengonsumsi makanan-makanan haram menurut ajaran Islam.
Dahulu kala ada seorang ulama yang berasal dari Pariaman yang berkunjung ke rumah-rumah orang untuk menyebarkan ajaran agama Islam bernama Syekh Burhanuddin. Saat beliau berkunjung ke rumah-rumah orang, ia seringkali disambut dengan jamuan hidangan haram seperti rendang tikus, gulai babi, dan ular goreng. Hal ini membuat Syekh mengajarkan cara membuat lemang sebagai makanan halal pada waktu berkunjung ke rumah orang-orang sehingga masyarakat tidak lagi memakai peralatan memasak yang telah digunakan untuk memasak makanan-makanan haram.
Syekh pun mengambil ruas bambu yang belum disentuh siapapun, memasukan beras dan air ke bagian dalamnya yang telah dilapisi dengan daun pisang agar tidak terkena serbuk bambu, lalu memasaknya dengan cara dibakar. Proses memasak ini pun ditiru oleh masyarakat sekitar dan menjadi kebiasaan orang Pariaman untuk membuatnya setiap perayaan-perayaan, khususnya perayaan hari besar umat Islam.
![]() |
| Rempah-rempah yang dipakai dalam masakan Indonesia. Sumber: indoindians.com |
Tidak hanya tanaman rempah-rempah banyak tumbuh di Indonesia, wilayah Indonesia juga merupakan wilayah yang strategis untuk didatangi oleh berbagai bangsa. Secara geografis, Indonesia terletak diantara 2 benua yaitu, Asia dan Australia serta 2 samudera, yaitu Hindia dan Pasifik. Hal ini membuat bangsa-bangsa dari berbagai wilayah seperti Eropa (Portugis, Inggris, Belanda, dan Spanyol), Arab, India, Cina dan Persia dahulu kala banyak berdatangan ke negeri ini dengan tujuan utama untuk memperoleh rempah-rempah.
Rempah-rempah itu diolah untuk menjadi bumbu masak dan obat-obatan. Bangsa-bangsa itu pun melakukan perdagangan, mengajarkan agama dan pertukaran budaya dengan masyarakat Indonesia. Tidak heran bila banyak kemiripan bahasa, jenis masakan dan teknik memasak di Indonesia dengan bangsa-bangsa tersebut. Lada, merica, cengkeh dan pala menjadi rempah-rempah yang paling banyak dicari di Indonesia. Berkat rempah-rempah tersebutlah, timbul keinginan bagi bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai Indonesia.
Rempah yang paling banyak diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa waktu datang ke Indonesia adalah buah pala. Buah pala ini hanya dapat tumbuh dengan baik di Kepulauan Banda, Maluku. Karena buah ini terbukti berkhasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti radang paru-paru, obat ini pun dijual mahal di Eropa. Pada tahun 1511, Alfonso de Albuquerque, seorang jenderal Portugis menyerang pulau-pulau di Maluku dan membangun benteng untuk memonopoli pala. Kemudian, pada tahun 1605, Belanda berhasil menyingkirkan Portugis yang telah menaklukan Ambon. Mereka pun mendirikan perusahaan dagang bernama VOC untuk memonopoli perdagangan pala dan bunga pala. Mereka memaksa warga untuk menjual pala hanya kepada VOC. Namun warga masih berusaha menjualnya kepada pedagang Jawa, Makassar, dan Inggris sehingga pertumpahan darah pun terjadi. Berikut ini adalah video penjelasan mengenai sejarah buah pala (nutmeg):
Hi readers! Di postingan kali ini, saya akan membahas tentang sejarah keju dan aneka ragam teknik pembuatannya di berbagai belahan dunia dari video karya Paul Kindstedt yang berjudul "A brie(f) history of cheese" di TED-Ed Youtube Channel.
![]() |
| Keju. Sumber: healthline.com |
Keju sudah ditemukan sejak kekaisaran dan kerajaan belum pernah terbentuk, teknik pembuatan pot dari tanah liat dan tulisan belum ditemukan, serta peralatan dan senjata dari logam belum ditemukan. Pada tahun 8000 SM, para petani zaman Neolitikum di wilayah yang disebut Fertile Crescent (wilayah berbentuk bulan sabit di Timur Tengah, yang mencakup Irak, Israel, Wilayah Palestina, Suriah, Lebanon, Mesir, dan Yordania modern serta bagian pinggir tenggara Turki dan bagian pinggir barat Iran) mulai meninggalkan warisan proses pembuatan keju hampir setua peradaban itu sendiri.
Berkembangnya tradisi bertani dan berternak, menimbulkan pemeliharaan sapi dan kambing untuk diambil susunya oleh para peternak purba. Sama halnya seperti makanan fermentasi pada umumnya, keju juga ditemukan akibat ketidaksengajaan. Suatu ketika seorang petani lupa menyimpan susu segar yang baru saja diperah dari sapi dan membiarkannya di lingkungan hangat dalam keadaan terbuka. Susu segar tersebut pun berubah menjadi asam dan bentuknya berupa gumpalan-gumpalan berwarna putih yang menggenang di cairan berwarna kuning. Hal ini terjadi akibat terbentuknya asam laktat yang merupakan hasil fermentasi susu oleh bakteri asam laktat yang terdapat di udara. Asam laktat yang terbentuk akan menyebabkan protein-protein terkoagulasi (menggumpal) membentuk gumpalan.
Petani yang melihat fenomena aneh tersebut pun memisahkan gumpalan-gumpalan dari cairan yang kita sebut "whey". Gumpalan tersebut dapat dimakan langsung atau dapat dioles ke makanan lain dan kemudian ditemukan bahwa gumpalan tersebut dapat dipres, disimpan bertahun-tahun, dan diturunkan menjadi beragam produk olahan susu. Penemuan keju membuat manusia Neolitikum dapat bertahan hidup pada berbagai kondisi. Susu tinggi akan kandungan protein esensial, lemak, mineral, dan laktosa. Laktosa merupakan gula yang sulit dicerna oleh manusia Neolitikum maupun modern. Sementara itu, keju juga mengandung semua nutrisi yang terkandung dalam susu tetapi dengan laktosa yang lebih sedikit. Selain itu, keju yang dapat diawetkan dapat menjadi cadangan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat saat panceklik (musim kekurangan bahan pangan) dan musim dingin yang panjang.
Pada potongan-potongan gerabah (alat-alat dari tanah liat) yang berasal dari tahun milenium ke-7 SM yang ditemukan di Turki ditemukan tanda-tanda adanya sisa keju dan mentega didalamnya. Di akhir zaman perunggu, keju merupakan komoditas standar dalam perdagangan maritim di sepanjang Mediterania timur. Keju pun menjadi bahan pokok dalam kuliner dan upacara keagamaan di ibukota Mesopotamia yang penduduknya padat.
Beberapa karya tulisan paling awal yang isinya merupakan catatan persediaan keju menampilkan beberapa jenis keju untuk ritual dan kelompok masyarakat yang berbeda di seluruh Mesopotamia. Catatan mengenai peradaban di sekitar Turki juga menyebutkan soal enzim rennet. Enzim rennet adalah produk sampingan yang diproduksi dalam perut hewan mamalia tertentu yang dapat mempercepat dan mengendalikan koagulasi. Akhirnya, bahan pembuatan keju modern ini menyebar ke seluruh dunia menghasilkan beragam jenis keju baru yang lebih keras.
Budaya makanan zaman dahulu di wilayah lain tadinya menyebabkan masyarakat di wilayah lain menolak produk susu karena tidak suka. Akan tetapi, semakin lama semakin banyak orang yang menyukai keju dan menambah cita rasa menggunakan bahan-bahan lokal di wilayah mereka sendiri.
Bangsa Mongolia menjemur susu yak (lembu dari pegunungan Himalaya) untuk menghasilkan byaslag (keju yang keras). Bangsa Mesir membuat keju dari susu kambing dengan cara menyaring wheynya menggunakan tikar buluh (bambu). Di Asia Selatan, susu dikoagulasi dengan beragam asam dari bebagai makanan, seperti lemon, cuka, atau yogurt dan digantung hingga kering menjadi paneer (keju India). Keju dapat dijadikan komponen tambahan pada kari dan saus atau digoreng sebagai makanan vegetarian yang mudah dibuat.
Bangsa Yunani membuat keju feta asin yang berbentuk bata dan jenis-jenis lainnya yang mirip seperti keju pecorino saat ini. Keju ini dibuat di Sisilia dan digunakan pada masakan di seluruh Mediterania. Dibawah kekuasaan bangsa Romawi, keju kering atau caseus aridus menjadi ransum penting untuk hampir 500 ribu prajurit penjaga perbatasan Kerajaan Romawi yang luas. Ketika Kerajaan Romawi Barat runtuh, pembuatan keju terus berkembang di puri-puri yang menghiasi pedesaan Eropa abad pertengahan.
Di biara-biara Benediktin yang tersebar di seluruh Eropa, pendeta-pendeta era pertengahan terus bereksperimen dengan beragam jenis susu, praktik pembuatan keju, dan proses penyimpanan yang menghasilkan keju-keju populer saat ini, seperti parmesan, roquefort, munster, dan beberapa jenis keju Swiss. Pembuatan keju Swiss sangat sukses di Alpen, sehingga tercipta beragam jenis keju dari susu sapi. Di akhir abad ke-14, negara tetangga menginvasi Gruyere Swiss untuk mengambil alih perdagangan keju di Alpen yang sangat menguntungkan dan sukses.
Keju tetap populer selama masa Renaisans, dan revolusi industri mengalihkan produksi keju dari biara ke pabrik. Dengan demikianlah, seluruh dunia sekarang dapat memproduksi sekitar 22 miliar kg keju dalam setahun, dikirim dan dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia.
Berikut ini adalah videonya;
Petani yang melihat fenomena aneh tersebut pun memisahkan gumpalan-gumpalan dari cairan yang kita sebut "whey". Gumpalan tersebut dapat dimakan langsung atau dapat dioles ke makanan lain dan kemudian ditemukan bahwa gumpalan tersebut dapat dipres, disimpan bertahun-tahun, dan diturunkan menjadi beragam produk olahan susu. Penemuan keju membuat manusia Neolitikum dapat bertahan hidup pada berbagai kondisi. Susu tinggi akan kandungan protein esensial, lemak, mineral, dan laktosa. Laktosa merupakan gula yang sulit dicerna oleh manusia Neolitikum maupun modern. Sementara itu, keju juga mengandung semua nutrisi yang terkandung dalam susu tetapi dengan laktosa yang lebih sedikit. Selain itu, keju yang dapat diawetkan dapat menjadi cadangan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat saat panceklik (musim kekurangan bahan pangan) dan musim dingin yang panjang.
Pada potongan-potongan gerabah (alat-alat dari tanah liat) yang berasal dari tahun milenium ke-7 SM yang ditemukan di Turki ditemukan tanda-tanda adanya sisa keju dan mentega didalamnya. Di akhir zaman perunggu, keju merupakan komoditas standar dalam perdagangan maritim di sepanjang Mediterania timur. Keju pun menjadi bahan pokok dalam kuliner dan upacara keagamaan di ibukota Mesopotamia yang penduduknya padat.
Beberapa karya tulisan paling awal yang isinya merupakan catatan persediaan keju menampilkan beberapa jenis keju untuk ritual dan kelompok masyarakat yang berbeda di seluruh Mesopotamia. Catatan mengenai peradaban di sekitar Turki juga menyebutkan soal enzim rennet. Enzim rennet adalah produk sampingan yang diproduksi dalam perut hewan mamalia tertentu yang dapat mempercepat dan mengendalikan koagulasi. Akhirnya, bahan pembuatan keju modern ini menyebar ke seluruh dunia menghasilkan beragam jenis keju baru yang lebih keras.
Budaya makanan zaman dahulu di wilayah lain tadinya menyebabkan masyarakat di wilayah lain menolak produk susu karena tidak suka. Akan tetapi, semakin lama semakin banyak orang yang menyukai keju dan menambah cita rasa menggunakan bahan-bahan lokal di wilayah mereka sendiri.
Bangsa Mongolia menjemur susu yak (lembu dari pegunungan Himalaya) untuk menghasilkan byaslag (keju yang keras). Bangsa Mesir membuat keju dari susu kambing dengan cara menyaring wheynya menggunakan tikar buluh (bambu). Di Asia Selatan, susu dikoagulasi dengan beragam asam dari bebagai makanan, seperti lemon, cuka, atau yogurt dan digantung hingga kering menjadi paneer (keju India). Keju dapat dijadikan komponen tambahan pada kari dan saus atau digoreng sebagai makanan vegetarian yang mudah dibuat.
Bangsa Yunani membuat keju feta asin yang berbentuk bata dan jenis-jenis lainnya yang mirip seperti keju pecorino saat ini. Keju ini dibuat di Sisilia dan digunakan pada masakan di seluruh Mediterania. Dibawah kekuasaan bangsa Romawi, keju kering atau caseus aridus menjadi ransum penting untuk hampir 500 ribu prajurit penjaga perbatasan Kerajaan Romawi yang luas. Ketika Kerajaan Romawi Barat runtuh, pembuatan keju terus berkembang di puri-puri yang menghiasi pedesaan Eropa abad pertengahan.
Di biara-biara Benediktin yang tersebar di seluruh Eropa, pendeta-pendeta era pertengahan terus bereksperimen dengan beragam jenis susu, praktik pembuatan keju, dan proses penyimpanan yang menghasilkan keju-keju populer saat ini, seperti parmesan, roquefort, munster, dan beberapa jenis keju Swiss. Pembuatan keju Swiss sangat sukses di Alpen, sehingga tercipta beragam jenis keju dari susu sapi. Di akhir abad ke-14, negara tetangga menginvasi Gruyere Swiss untuk mengambil alih perdagangan keju di Alpen yang sangat menguntungkan dan sukses.
Keju tetap populer selama masa Renaisans, dan revolusi industri mengalihkan produksi keju dari biara ke pabrik. Dengan demikianlah, seluruh dunia sekarang dapat memproduksi sekitar 22 miliar kg keju dalam setahun, dikirim dan dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia.
Berikut ini adalah videonya;
Lemang tapai dan tape uli adalah makanan khas di Indonesia yang sama-sama terbuat dari beras ketan putih yang disajikan dengan tapai ketan hitam. Lemang tapai lebih dikenal sebagai makanan khas Melayu dan Minang; sementara tape uli lebih dikenal sebagai makanan khas Betawi. Lemang terbuat dari beras ketan putih yang dimasak bersama santan (yang telah diberi garam) dalam bambu yang telah dilapisi gulungan daun pisang dengan cara dibakar. Sementara itu, uli dibuat dengan cara mengkukus beras ketan putih kemudian dicampur dengan kelapa parut dan garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.
Untuk pembuatan tapai ketan hitam itu sendiri sama, yaitu beras ketan hitam dicuci dan direndam semalam lalu dikukus hingga setengah matang (kurang lebih 20-30 menit). Kemudian, beras ketan disiram air mendidih sambil diaduk hingga air menyerap. Selanjutnya, beras ketan hitam dikukus kembali hingga sedikit matang. Ketan hitam yang telah sedikit matang kemudian ditambahkan ragi setelah dingin (suhu ruang) dan dibungkus dengan daun pisang atau diletakkan dalam wadah tertutup lain seperti kontainer plastik. Terakhir, ketan hitam didiamkan selama 3 hari untuk proses fermentasi menjadi tapai. Tapai pun siap dikonsumsi setelah didiamkan 3 hari.
Untuk pembuatan tapai ketan hitam itu sendiri sama, yaitu beras ketan hitam dicuci dan direndam semalam lalu dikukus hingga setengah matang (kurang lebih 20-30 menit). Kemudian, beras ketan disiram air mendidih sambil diaduk hingga air menyerap. Selanjutnya, beras ketan hitam dikukus kembali hingga sedikit matang. Ketan hitam yang telah sedikit matang kemudian ditambahkan ragi setelah dingin (suhu ruang) dan dibungkus dengan daun pisang atau diletakkan dalam wadah tertutup lain seperti kontainer plastik. Terakhir, ketan hitam didiamkan selama 3 hari untuk proses fermentasi menjadi tapai. Tapai pun siap dikonsumsi setelah didiamkan 3 hari.
![]() |
| Lemang Tapai. Sumber: newsikal.com |
![]() |
| Tape Uli. Sumber: sajiansedap.grid.id |
Sejarah Penemuan Teh
Penemuan Teh Melati di Indonesia
Sumber: Dokumen PT. Gunung Slamat
![]() |
| Kaisar Shennong (Penemu teh). Sumber: http://www.china.org.cn |
Konon, teh ditemukan oleh Kaisar Shennong yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum Masehi. Ketika sang Kaisar merebus air dibawah pohon, ada beberapa helai daun yang jatuh kedalam rebusan air tersebut akibat hembusan angin. Kemudian, sang Kaisar pun meminum air rebusan tersebut dan merasa bahwa air yang diminumnya lebih enak daripada air putih biasa dan badan menjadi lebih segar setelah meminumnya. Daun tersebut kemudian dikenal sebagai daun teh dan disebarluaskan melalui pertukaran kebudayaan dengan menelusuri Jalur Sutera pada masa Dinasti Han, Tang, Song dan Yuan. Adapun tanaman teh mulai diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1686 sebagai tanaman hias oleh orang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer. Pada masa pemerintahan Gurbenur Van den Bosch tahun 1828 (penjajahan Belanda), tanaman teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam oleh rakyat melalui politik tanam paksa (Cultuurstelsel).
![]() |
| Perkebunan teh di zaman penjajahan Belanda. Sumber: teanology.files.wordpress.com |
Penemuan Teh Melati di Indonesia
Dahulu, daun teh hasil tanam paksa di Indonesia yang berkualitas baik diambil oleh para penjajah dari Belanda dan diperdagangkan ke para bangsawan. Sementara daun teh yang hasilnya buruk diberikan kepada rakyat kecil. Agar rasa daun teh tetap enak untuk dinikmati, para rakyat pun mencari cara dan ditemukanlah bahwa penambahan bunga melati membuat teh menjadi nikmat rasanya. Dengan demikianlah teh melati menjadi sangat terkenal di Indonesia.
Proses pembuatan teh tubruk di PT. Gunung Slamat
1. Pengeringan
Daun teh yang dipanen langsung dikeringkan sebelum dibawa ke pabrik agar tidak keburu layu sebelum diproses. Sesampai di pabrik, teh dikeringkan lagi untuk membentuk warna dan aroma khas teh. Pengeringan dilakukan menggunakan suhu 100-120 oC selama 40-45 menit. Warna teh akan semakin baik semakin lama pengeringan, tetapi senyawa didalamnya juga semakin hilang.
2. Pembaceman
Pembaceman adalah proses dimana daun teh yang telah kering ditambahkan air untuk mengurangi reaksi eksoterm teh saat kontak dengan bunga pada proses pewangian, sehingga bunga tidak rusak dan kehilangan aromanya. Reaksi eksoterm adalah panas yang dihasilkan oleh suatu proses pemanasan sehingga panas berpindah dari sistem ke lingkungan.
3. Pewangian
Pada proses ini, bunga melati dan bunga gambir dicampurkan kedalam daun teh.
4. Pengeringan
Pengeringan setelah pewangian ini dilakukan untuk menghilangkan kadar air didalam teh.
5. Pengemasan
Pengemasan teh di PT. Gunung Slamat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara tradisional dan modern. Pengemasan tradisional dilakukan untuk mengemas teh tubruk dengan cara nyontong dari bungkus berukuran kecil hingga berukuran besar dan mayoritas dilakukan oleh ibu-ibu. Sementara pengemasan modern dilakukan untuk membungkus teh celup menggunakan mesin dengan kecepatan 100 hingga 300 kantong per menit.
![]() |
| Spekkoek. Sumber: www.sbs.com.au |
Di era teknologi yang berkembang pesat saat ini, menyebabkan terjadinya berbagai perubahan dan inovasi terhadap segala benda disekitarnya, ya, salah satunya adalah makanan. Munculnya inovasi-inovasi makanan baru tersebut seringkali membuat masyarakat lupa akan makanan-makanan tradisional yang ditemukan oleh nenek moyang sehingga menjadi hilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Di saat yang bersamaan, persaingan bisnis kuliner juga semakin gencar dan kegiatan berwisata kuliner juga semakin banyak diminati oleh masyarakat. Makanan tradisional seringkali menjadi identitas suatu daerah yang unik sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk mengunjungi / berwisata ke suatu negara. Adapun makanan tradisional yang berada di suatu daerah / negara saat ini merupakan hasil dari campuran berbagai budaya dari negara-negara berbeda. Sebagai contoh, bakcang di Indonesia merupakan makanan yang berasal dari negeri China, kue lapis legit merupakan makanan hasil pengaruh dari budaya Belanda yang lebih dikenal sebagai "spekkoek" di Belanda, dan rendang tidak hanya dikenal sebagai makanan khas Minangkabau, Padang, Sumatera Barat tetapi seringkali juga dianggap sebagai makanan khas Malaysia. Oleh karena itu, penting bagi generasi-generasi muda untuk berpartisipasi dalam melestarikan makanan tradisional di Indonesia, baik dari sisi sejarah, budaya, proses pembuatannya, dan cita rasanya sehingga semakin banyak wisatawan kuliner yang ingin mengunjungi Indonesia untuk menjaja kulinernya dan dengan demikian dapat berkontribusi dalam peningkatan devisa negara.
Budaya Makanan
Kaledo - Salah satu makanan tradisional Indonesia dari Sulawesi Tengah yang patut dilestarikan
11:29 PM
Kaledo dikenal sebagai makanan khas Suku Kaili, yaitu suku yang mendiami Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah - Indonesia. Sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah mengenal sebutan "kaledo" sebagai "kaki lembu Donggala" sehubung makanan ini berbahan dasar kaki sapi (sapi dalam Bahasa Melayu disebut "lembu") dan Donggala sudah menjadi pusat perdagangan sapi di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kaledo berupa sup yang terdiri dari kuah kaldu yang berasa asam, tulang kaki sapi, dan daging kaki sapi. Kuah kaledo terbuat dari kaldu tulang kaki dan daging sapi yang dibumbui dengan sari asam jawa mentah, cabai, dan garam. Kaledo pada umumnya disajikan saat panas dan dihidangkan bersama dengan kasubi (singkong rebus) dan bahan pelengkap seperti bawang goreng, jeruk nipis, serta sambal. Walaupun sangat terkenal di Sulawesi Tengah, kaledo tidak terlalu dikenal oleh masyarakat di luar Sulawesi. Catatan sejarah atau budaya tentang kaledo itu sendiri pun belum pernah didokumentasikan. Oleh karena itu, sejarah dan budaya terkait kaledo perlu dilestarikan agar tidak menghilang identitasnya sebagai icon kota Palu ataupun makanan khas tradisional Indonesia dan dapat diwariskan ke generasi mendatang.
Berikut ini merupakan video yang mengulas sedikit tentang Kaledo yang dibuat oleh saya bersama tim. Selamat menonton!
Artikel kali ini akan membahas etika makan yang baik dan benar di restoran yang saya pelajari mengikuti pelatihan table manner di Hotel Santika, BSD.
![]() |
| Penyajian peralatan makan di meja makan di Hotel Santika BSD |
Ada macam-macam penyajian makanan:
1. Buffet / prasmanan
2. Family style (makanan sudah lengkap disajikan di meja makan, para tamu tinggal pilih makanan apa yang ingin diambil)
![]() |
| Family service style. Sumber: www.bistroboyscatering.com |
3. Gueridon / Trolley service
![]() |
| Gueridon / Trolley service style. Sumber: pinterest.com |
4. Ala carte (1 orang makan 1 macam menu saja)
5. Set menu (terdiri dari appetizer, salad, soup, main course, dessert)
Etika sebelum makan:
1. Posisi duduk tegap, tidak bersandar pada kursi, setidaknya posisi tubuh dengan meja berjarak 5 jari
2. Buka lipatan serbet (napkin) yang disediakan diatas meja, lipat serbet 1 kali menjadi bentuk segitiga dan letakkan di atas paha
3. Jangan letakkan barang pribadi (seperti smartphone, tas, dompet) diatas meja
Etika ketika makan:
1. Tunggu para pramusaji menyajikan hidangan ke atas meja
2. Gunakan peralatan makan mulai dari yang terluar dahulu dan sesuai dengan fungsi masing-masing alat. Peraturan ini disebut "outside-in".
Saat makan di restoran mewah, peralatan makan seperti sendok, garpu, pisau, piring, napkin telah disusun sedemikian rupa sesuai fungsi dari masing-masing alat makan. Alat yang kita gunakan untuk menyantap hidangan pun harus sesuai dengan fungsi masing-masing alat makan, misalnya: makan dessert harus menggunakan dessert spoon dan dessert fork, makan salad hanya boleh memakai salad fork dan salad knife (bila disediakan keduanya), makan sup harus menggunakan sendok khusus untuk makan sup (soup spoon), makan hidangan utama (main course) menggunakan dinner fork dan dinner knife.
![]() |
| Tata letak peralatan makan. Sumber: dummies.com |
3. Pegang peralatan makan dengan benar
![]() |
| Cara memegang peralatan makan saat makan yang benar (kiri) dan salah (kanan). Sumber: Chaîne des Rôtisseurs |
4. Kunyah makanan dengan mulut tertutup
5. Jika ingin mengoper garam, lada, atau saus (condiments) ke seseorang yang letak duduknya berjauhan dengan Anda, maka oper melalui orang di sebelah Anda yang terdekat dengan orang tersebut; tetapi jika semuanya ingin menggunakan condiments tersebut, maka oper dari kiri ke kanan.
Etika sesudah selesai makan:
1. Jika ingin melap mulut dengan serbet, maka lipat-lipat dahulu serbet ke ukuran yang lebih kecil.
2. Letakan peralatan makan sesuai dengan posisi yang menunjukkan bahwa Anda sudah selesai makan.
![]() |
| Posisi peletakan alat makan gaya Amerika saat istirahat (kiri) dan saat selesai makan (kanan). Sumber: huffpost.com |
![]() |
| Posisi peletakan alat makan gaya Kontinental saat istirahat (kiri) dan saat selesai makan (kanan). Sumber: huffpost.com |
3. Lipat serbet dan letakkan serbet di tempat Anda berada sebelum meninggalkan meja makan.
Cara makan soft bread:
Buka kemasan butter, pegang roti menggunakan kedua tangan lalu disobek menggunakan tangan kiri, ambil pisau menggunakan tangan kanan, oleskan ujung pisau ke butter dan oleskan butter ke roti.
Cara makan sup:
Saat sup diangkat memakai sendok, sup tidak boleh menetes dari sendok sehingga bagian bawah sendok harus digesekkan ke tepi mangkuk sup sebelum sendok diarahkan menuju ke mulut.
Cara makan daging:
Gaya Eropa = Bagian ujung daging ditusuk garpu dan dipotong menggunakan pisau lalu dimakan.
Gaya Amerika = Daging dipotong-potong secara keseluruhan terlebih dahulu sebelum dimakan.
Budaya Makanan
3 Perspektif mengenai Ketahanan Pangan Berkelanjutan: Efisiensi, Pengendalian Permintaan, dan Transformasi Sistem Makanan. Apa peran LCA?
9:48 AM
Ada 3 jenis perspektif yang dapat diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah dalam mencapai keberlanjutan ketahanan pangan, yaitu efisiensi, pengendalian permintaan, dan transformasi sistem makanan. Dalam ketiga perspektif ini, LCA (Life Cycle Assessment) digunakan sebagai salah satu alat atau metode manajemen untuk mengevaluasi masalah lingkungan.
Perspektif efisiensi menekankan pada peningkatan produktivitas pangan, tetapi tidak memperhatikan masalah konsumsi dan kesetaraan. Penekanan pada peningkatan produktivitas dapat dilihat dari perhatian yang difokuskan pada pemilihan cara pemakaian lahan yang lebih tepat, yaitu antara land sparing dengan wildlife-friendly. Land sparing lebih baik daripada sistem wildlife-friendly karena sistem ini memfokuskan pada penanaman tanaman pangan yang intens (efisien) sehingga mampu menghasilkan pangan lebih banyak sekaligus dapat menyisakan sebagian lahan yang tidak tersentuh sehingga dapat digunakan untuk konservasi alam. Sementara wildlife-friendly, mampu menyisakan lebih banyak lahan untuk alam, tetapi lahan pertaniannya memiliki skala kecil dengan tumbuhan bervariasi sehingga produktivitas yang dihasilkan (untuk satu jenis tanaman) menjadi tidak terlalu tinggi dan justru dianggap tidak dapat memberikan hasil sebanyak land sparing (Fishcer, dkk., 2008). Akan tetapi, perspektif ini tidak dapat memberikan batas jumlah produksi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan, sehingga ada kemungkinan bahwa lahan yang disisakan justru akan digunakan untuk meningkatkan produksi secara terus-menerus. Pada perspektif ini, LCA digunakan untuk menganalisis metode atau teknik produksi yang mampu meningkatkan efisiensi sumber daya dan juga menurunkan dampak lingkungan yang dihasilkan (Laurentiis, Hunt, dan Rogers, 2016).
Berdasarkan perspektif pengendalian permintaan (demand restraint), konsumsi berlebih oleh konsumen merupakan penyebab utama terjadinya krisis lingkungan yang sedang dihadapi. Akibat memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan, pembatasan konsumsi makanan menjadi prioritas utama. Dalam hal ini, pangan hewani (hewan ternak) dinilai memberikan dampak negatif pada lingkungan 2-25 kali lebih besar daripada pangan nabati (tumbuh-tumbuhan), baik dari segi emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan dan energi, serta potensi asidifikasi dan eutrofikasi. Di sisi lain, perspektif demand restraint tidak mampu memberikan batasan minimum konsumsi pangan yang harus dicapai agar emisi yang dihasilkan tidak melebihi nilai nutrisi mikronutrien yang diberikan dari makanan tersebut. LCA digunakan dalam perspektif ini untuk menentukan pola konsumsi terbaik (sehat dan ramah lingkungan) sehingga kemudian dapat membentuk pola produksi yang lebih baik, terutama bagi lingkungan (Stefanova dan Iannetta, 2016).
Pada perspektif food system transformation, perubahan pada sistem pangan harus dilakukan secara keseluruhan (mulai dari masing-masing individu, pola konsumsi, hingga para produsen) untuk mencapai ketahanan pangan. Dalam perspektif ini, LCA dianggap belum dapat diterapkan karena tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain selain dari proses produksi, seperti sosial ekonomi, serta pengembangan norma-norma konsumsi yang baru (Garnett, 2014). LCA saat ini hanya mempertimbangkan nilai efisiensi produk dari beberapa hal, seperti jumlah emisi rumah kaca, penggunaan air bersih, dan pemanfaatan lahan (Gustafson, dkk., 2016).
Sumber:
Garnett, T. Three Perspectives on Sustainable Food Security: Efficiency, Demand Restraint, Food System Transformation. What Role for LCA? Journal of Cleaner Production 29 : 1-9.
Budaya Makanan
Kedaulatan pangan sebagai dekolonisasi: kontribusi masyarakat pribumi terhadap sistem pangan dan politik pembangunan.
10:24 AM
Akhir-akhir ini, perdebatan mengenai kedaulatan pangan menjadi peristiwa yang sedang hangat didiskusikan. Perdebatan ini dipicu oleh adanya pergeseran makna istilah "kedaulatan pangan" dari makna aslinya dan perkembangan pergerakan pangan. Dalam artikel ini, akan dijelaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan bagian dari perjuangan masyarakat pribumi setelah masa penjajahan yang tidak lepas dari kedaulatan, budaya, sosial, dan politik.
Adanya gerakan peduli terhadap kedaulatan pangan berawal dari munculnya sebuah koalisi internasional pada tahun 1996, dimana petani, perempuan pedesaan dan penduduk pribumi berkumpul di Tlaxcala, Meksiko untuk membahas keprihatinan mereka bersama mengenai dampak dari sistem pertanian pangan yang semakin mengglobal dan mempengaruhi mata pencaharian, komunitas dan ekologi mereka. Koalisi ini dikenal sebagai "La Via Campesina" yang sekarang menjadi salah satu gerakan sosial terbesar di dunia, melibatkan lebih dari 148 organisasi di 69 negara.
La Via Campesina menggunakan "kedaulatan pangan" sebagai konsep dan kerangka kerja yang menantang fundamen sistem pertanian. Konsep ini meningkatkanya perhatian masyarakat mulai dari gerakan sosial masyarakat-masyarakat asli dan organisasi non pemerintah, serta dikemukakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi yang dilaksanakan di Roma pada tahun 2002. Dalam KTT, disebutkan isi dari kedaulatan pangan, yaitu hak petani pria maupun perempuan dalam memproduksi makanan, hak konsumen dalam memilih makanan yang ingin dikonsumsi, hak negara dalam melindungi hasil pertanian, harga hasil pertanian, serta hak masyarakat atau populasi untuk ikut serta dalam memilih kebijakan pertanian.
Forum internasional mengenai kedaulatan pangan diselenggarakan kembali pada tahun 2007 di Nyeleni, Mali. Forum ini menghasilkan definisi kedaulatan pangan sebagai hak masyarakat untuk memperoleh makanan yang sehat dan layak menggunakan sistem pangan mereka sendiri dan metode produksi yang berkelanjutan sehingga kebutuhan generasi berikutnya pun terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat harus dapat memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi makanan sesuai dengan sistem dan kebijakan sendiri, tidak menuruti permintaan / tuntutan pasar dan perusahaan sehingga dapat melawan dan membongkar perdagangan perusahaan dan sistem pangan neoliberal dan sistem pertanian maupun perikanan yang ditentukan oleh produsen dan pengelola lokal lebih diutamakan.
Sistem pangan neoliberal adalah sistem pangan yang mengutamakan kepentingan perusahaan, dimana makanan didistribusikan melalui pasar. Sementara sistem pangan "kedaulatan pangan" mengutamakan produksi pangan lokal, perlindungan pertanian, dan perlindungan pasar lokal dari dumping (praktik menjual barang lebih murah di luar negeri daripada di dalam negeri) atau makanan bersubsidi impor.
Pembangunan perekonomian di bidang pertanian secara berkelanjutan oleh masyarakat pribumi Amerika Utara mengalami hambatan. Hambatan-hambatan tersebut terdiri dari hak atas kepemilikan tanah, korupsi, kerusakan lingkungan, kontaminasi genetik (dalam hal ini GMOs), dan ketergantungan energi. Selain itu, masyarakat ini juga harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan tinggi seperti negara, perusahaan swasta, lembaga penelitian, organisasi pemerintah, kelompok minat khusus, bahkan warga negara itu sendiri.
Untuk mengurangi penurunan penjualan, para petani pribumi Amerika Utara menjual padi liar (zizania) hasil produksi mereka kepada perusahaan lokal yang mampu membayar dengan harga yang layak, yaitu Anishnaabe. Padi liar yang dijual tersebut dikemas dengan gambar orang India kuno dengan merek Ojibway. Hasil penjualan, konsumsi, dan kegiatan pemanenan padi liar ini meningkatkan distribusi biji-bijian. Hal ini didukung dengan adanya penelitian yang didanai oleh USDA mengenai perlindungan produk padi liar dari kontaminasi genetik, sedangkan padi liar hasil kontaminasi silang (GMO) dipisahkan pemanenannya.
Akhirnya, penjualan padi liar ini memberikan dampak positif bagi sektor agrikultur varietas lainnya. Contohnya seperti pemanfaatan biji jagung untuk pembuatan bubur jagung dan hasil perkebunan buah-buahan lokal yang dimanfaatkan menjadi sirup maple. Hal ini dilanjutkan dengan gerakan-gerakan menuju pola hidup sehat seperti program makan siang untuk anak-anak sekolah dasar, pola makan bagi lansia dan pola makan bagi penyakit diabetes. Semua hasil perkebunan ini berasal dari kebun mereka sendiri, bukan dari ladang perkebunan, bahkan industri.
Jadi, apa itu kedulatan pangan?
Kedaulatan pangan adalah kemampuan
masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri mulai dari
penyediaan benih, produksi makanan, distribusi, hingga pemasaran. Indonesia harus mampu mewujudkan kedaulatan pangan, bukan swasembada pangan. Sebab, swasembada pangan hanya sebatas bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri tetapi masih memiliki ketergantungan pada negara lain dalam hal produksi benih. Jika hubungan dagang benih dengan negara lain diputus, maka negara yang mengimpor bibit unggul akan mengalami krisis pangan.
Adakah contoh praktik sistem pangan neoliberalisme dan kedaulatan pangan di Indonesia?
Ya, sistem pangan neoliberalisme di Indonesia diterapkan oleh BUMN yang menggantikan BULOG (Badan Usaha Logistik), sementara BULOG dibentuk untuk menyeimbangkan kondisi pasar. Kondisi pasar diseimbangkan oleh BULOG dengan cara menaikan harga pangan saat paceklik dan menurunkan harga pangan saat panen.
Sumber:
Grey, S., Patel, R. Food sovereignty as decolonization: some contributions from Indigenous movements to food system and development politics. Agriculture and Human Values 32 (3) : 431-444.
Sumber:
Grey, S., Patel, R. Food sovereignty as decolonization: some contributions from Indigenous movements to food system and development politics. Agriculture and Human Values 32 (3) : 431-444.
Budaya Makanan
PERAN TEKNOLOGI PANGAN DALAM MENCIPTAKAN MAKANAN UNTUK BEKAL MAKAN SIANG MASYARAKAT AMERIKA
1:18 PM
Pada tahun 2007, American Pacts mencatat 8 miliar makan siang yang dibawa oleh masyarakat Amerika Serikat berhasil menurunkan pengeluaran yang akhirnya digunakan untuk ditabung dengan nilai setara dengan Gross Domestic Bruto Paraguay. Goldfish Crackers, Baby Carrots, Twinkies dengan krim vanila di dalamnya, jus apel dalam kotak, dan sandwich berisi peanut butter dan jelly adalah makanan yang seringkali dijumpai pada kotak makan masyarakat Amerika Serikat. Makanan-makanan ini sebenarnya telah melalui serangkaian proses yang cukup panjang hingga akhirnya dapat sampai di tangan konsumen. Dalam tayangan TV Series Food Tech Season 1, Episode 3 yang berjudul "LUNCH BOX" ini, dibahas proses pembuatan ketujuh makanan yang paling sering dijadikan bekal makan siang oleh masyarakat Amerika Serikat tersebut.
Peanut butter
Sunland Inc. adalah salah satu perusahaan yang memproduksi peanut butter terkenal yang berlokasi di Portales, New Mexico. Jenis kacang yang digunakan oleh perusahaan ini untuk membuat peanut butter adalah kacang Valencia karena memiliki rasa manis alami terutama setelah dipanggang dan ditambahkan garam. Kacang Valencia yang diangkut ke pabrik oleh truk traler selanjutnya akan mengalami proses seleksi, pemisahan dari kulit/cangkang (kulit ari tidak dibuang), pemanggangan pada suhu 350 oF selama 30 menit, didinginkan dan digiling. Penggilingan akan membuat kacang memiliki konsistensi yang creamy dan delicate. Kulit / cangkang kacang biasanya dimanfaatkan lebih lanjut untuk kosmetik hingga pasir kucing. Untuk memproduksi peanut butter yang crunchy, peanut butter yang creamy ditambahkan kacang yang telah dicincang.
Jelly
Di Timur Laut Pennsylvania, terdapat perkebunan anggung bernama Welch's yang sanggup memproduksi 17 juta galon jus anggur. Pada tahun 1849, seorang petani Massachusetts bernama Ephraim Bull mengembangkan produk grape jelly menggunakan Concord Grape sebagai bahan dasar. Beliau melakukan eksperimen dengan metode crossbreeding sebanyak 22.000 kali untuk menemukan varietas yang tepat untuk digunakan sebagai jelly, yaitu yang manis dan dapat tahan cuaca dingin.
Proses pembuatan grape jelly dimulai dengan memanaskan jus anggur didalam kanal bersamaan dengan toples kaca untuk mengemasnya (agar tidak pecah saat pengemasan) pada suhu 280 oF . Selama pemanasan, zat-zat yang dibutuhkan agar jelly terbentuk ditambahkan, salah satunya adalah pektin. Pektin ditambahkan diakhir agar tidak mengental lebih awal dan menyumbat kanal. Jelly yang masih panas (cair) dikemas sebanyak 135 jar setiap menitnya, lalu ditutup dan didiamkan beberapa saat agar mendingin dan adonan jelly mengental.
![]() |
| Peanut buter jelly sandwich. Sumber: cdn.pastemagazine.com |
Wonder Bread
Roti tawar merek Wonder Bread telah dijual selama lebih dari 90 tahun. Proses pembuatannya dimulai dengan mencampurkan tepung terigu, ragi, beberapa jenis zat aditif dan gula cair dengan konsentrasi 5% (pemberi aroma manis khas Wonder Bread) pada mixer dengan kapasitas 1700 loaf. Kemudian adonan dilewatkan ke divider untuk memotong adonan tepat untuk 1 loaf, lalu ke humid chamber selama 1 jam untuk mengembangkan adonan hingga optimal, dipanggang, dan dikeluarkan dari cetakan dengan kombinasi semprotan udara bertekanan tinggi dan penyedot vakum untuk dipotong.
| Wonder Bread. Sumber: cbsnews.com |
Jus kotak
Kotak minuman pertama kali ditemukan pada tahun 1950-an oleh seorang pakar ekonomi Swedia untuk mengefisienkan distribusi susu. Saat ini, salah satu produsen kotak minuman terkenal adalah Tetra Pak, yang menjamin kualitas semua jenis produk selama 12 bulan penyimpanan tanpa pendingin. Pembuatan kemasan Tetra Pak dimulai dengan mencetak desain kemasan produk pada kertas roll besar. Kertas ini kemudian dilapisi dengan aluminium foil dan lapisan tipis polyethylene dengan densitas rendah pada mesin laminator, lalu diinspeksi dengan lampu strobo khusus yang didesain untuk membuat lapisan roll seolah berjalan lambat pada lini produksi. Roll kemudian ditempelkan dengan presisi (harus sempurna) ke mesin pemotong menggunakan double sided tape sehingga potongan menjadi lurus.
Adapun Tetra filler berfungsi membentuk roll kemasan Tetra Pak menjadi kotak jus. Roll kemasan mula-mula dibentuk menjadi silinder dan diisi dengan jus apel, lalu dipotong, dilipat, dibentuk, an dilem dalam satu tahap pada mesin. Sedotan dilem terakhir pada bagian luar kemasan jus.
Juicy Juice Bottling Plant yang berlokasi di Wisconsin adalah salah satu pabrik minuman yang menggunakan Tetra Pak. Rasa apel adalah rasa jus terfavorit diantara 7 jenis rasa jus yang diproduksi oleh pabrik ini dengan kapasitas 8000 gallon per hari. Jus apelnya terbuat dari konsentrat apel, dimana 300 galon konsentrat apel dicampur dengan 1700 gallon air lalu ditambahkan asam askorbat untuk meningkatkan kadar vitamin C agar dapat memenuhi kebutuhan harian dalam 1 kotak jus.
![]() |
| Juicy Juice Apple Juice Box. Sumber: juicyjuice.com |
Baby Carrot
Pusat wortel di dunia ada di Bakersfield, California. 90% wortel yang dikonsumsi di Amerika berasal dari wilayah tersebut. Salah satu produsen wortel terbesar di Amerika adalah Bolthouse Farm. Mike Yurosek adalah pencipta baby carrot yang awal tujuannya untuk memanfaatkan wortel yang bentuknya tidak baik dan ditolak yang jumlahnya mencapai 70% dari total panen.
Wortel sekarang ditanam dan dipanen menggunakan mesin. Mesin panen telah dilengkapi sistem navigasi agar dapat berjalan sempurna dalam satu garis lurus tanpa perlu menyetir mesinnya. Wortel yang dipanen kemudian akan dipindahkan dari lahan ke pabrik menggunakan trailer. Wortel dipindahkan dari trailer menggunakan air untuk mencegah kerusakan sekaligus untuk mencuci wortel. Selanjutnya, wortel dipindahkan naik dengan ban berjalan untuk memisahkan kotoran / materi lain dari wortel, lalu dipotong, dikupas, di-grading (oleh manusia) dan dikemas.
![]() |
| Bolthouse Farms Baby Carrots. Sumber: bolthouse.com |
Goldfish Crackers
Goldfish Crackers yang diproduksi oleh perusahaan Pepperidge Farm (pabriknya berlokasi di Denver, Pennsylvania) merupakan salah satu snack favorit yang sering dimasukkan kedalam kotak makan siang masyarakat Amerika. Cemilan ini sebenarnya diciptakan pertama kali di negara Swiss dan kemudian diperkenalkan di Amerika pada tahun 1962. Cemilan asal Swiss tersebut berbeda dengan Goldfish cracker, dimana cemilan asal Swiss tersebut tidak menggunakan keju cheddar dan lebih cocok disebut sebagai butter cracker.
Bahan dasar pembuatan Goldfish cracker adalah terigu, air, garam, gula dan ragi. Untuk menambah flavor, perusahaan memakai campuran berbagai rempah yang menjadi resep rahasia. Proses pembuatannya dimulai dengan mencampurkan gula, garam, ragi dan campuran rempah-rempah. Bahan kemudian di-mixing dalam alat mixer dan dimasukkan pula keju cheddar (untuk Goldfish Cheddar Cracker). Keju yang digunakan adalah American Midwest cheddar. Setelah tercampur rata, adonan Goldfish dipindahkan ke sebuah wadah besar dan ditutup plastik. Adonan didiamkan beberapa saat agar ragi dapat mengembangkan adonan. Kemudian, adonan dimasukkan kedalam mesin yang membentuk adonan menjadi lembaran, lalu masuk kedalam proses laminasi (dipotong, ditumpuk dan ditimpa sehingga membentuk beberapa lapisan) dan dilewatkan ke roll yang menyatukan lembaran adonan menjadi satu lembaran kembali sehingga akan terbentuk cracker ber-layer yang sangat mempengaruhi tekstur cracker.
Lembaran adonan yang telah dilaminasi selanjutnya dibuat sedikit bergelombang saat dilewatkan melalui conveyor agar lembaran adonan tidak kaku saat dicetak. Kemudian, lembaran adonan dicetak atau dipotong melalui mesin rolling cutter lalu dilewatkan melalui conveyor untuk memisahkan adonan hasil cetakan dengan adonan sisanya. Adonan berbentuk ikan hasil cetak selanjutnya dipanggang, lalu dikemas dan didistribusikan di seluruh Amerika.
Bahan dasar pembuatan Goldfish cracker adalah terigu, air, garam, gula dan ragi. Untuk menambah flavor, perusahaan memakai campuran berbagai rempah yang menjadi resep rahasia. Proses pembuatannya dimulai dengan mencampurkan gula, garam, ragi dan campuran rempah-rempah. Bahan kemudian di-mixing dalam alat mixer dan dimasukkan pula keju cheddar (untuk Goldfish Cheddar Cracker). Keju yang digunakan adalah American Midwest cheddar. Setelah tercampur rata, adonan Goldfish dipindahkan ke sebuah wadah besar dan ditutup plastik. Adonan didiamkan beberapa saat agar ragi dapat mengembangkan adonan. Kemudian, adonan dimasukkan kedalam mesin yang membentuk adonan menjadi lembaran, lalu masuk kedalam proses laminasi (dipotong, ditumpuk dan ditimpa sehingga membentuk beberapa lapisan) dan dilewatkan ke roll yang menyatukan lembaran adonan menjadi satu lembaran kembali sehingga akan terbentuk cracker ber-layer yang sangat mempengaruhi tekstur cracker.
Lembaran adonan yang telah dilaminasi selanjutnya dibuat sedikit bergelombang saat dilewatkan melalui conveyor agar lembaran adonan tidak kaku saat dicetak. Kemudian, lembaran adonan dicetak atau dipotong melalui mesin rolling cutter lalu dilewatkan melalui conveyor untuk memisahkan adonan hasil cetakan dengan adonan sisanya. Adonan berbentuk ikan hasil cetak selanjutnya dipanggang, lalu dikemas dan didistribusikan di seluruh Amerika.
![]() |
| Goldfish crackers. Sumber: Amazon.com |
Twinkies
Twinkies merupakan salah satu dessert favorit berupa kue berwarna coklat berisikan krim vanilla yang sering ada didalam kotak makan masyakarat Amerika Serikat. Kue ini telah diproduksi di Amerika sejak tahun 1933. Presiden Bill Clinton pada tahun 1999 memasukkan Twinkies kedalam nation millennium time capsule sebagai objek yang menjadi simbol negara Amerika.
Bahan pembuatan Twinkies hampir persis seperti adonan kue pada umumnya, yaitu gula, terigu, telur, air dan garam. Proses pembuatannya dimulai dari pencampuran bahan-bahan adonan kue tersebut. Adonan kue selanjutnya disemprotkan kedalam loyang cetakan menggunakan alat depositor untuk memastikan kue yang dihasilkan memiliki ukuran yang sama. Kinerja alat ini dicek secara berkala melalui pengambilan dan pengukuran berat dari sampel adonan. Standar berat adonan yang telah ditetapkan adalah sebesar 33-34 gram. Adonan kue yang dicetak selanjutnya dipanggang, lalu dilewatkan ke mesin cream filler setelah matang. Mesin ini berfungsi untuk menginjeksi kue dengan krim vanilla melalui tiga buah injector atau needle.
Twinkies merupakan salah satu dessert favorit berupa kue berwarna coklat berisikan krim vanilla yang sering ada didalam kotak makan masyakarat Amerika Serikat. Kue ini telah diproduksi di Amerika sejak tahun 1933. Presiden Bill Clinton pada tahun 1999 memasukkan Twinkies kedalam nation millennium time capsule sebagai objek yang menjadi simbol negara Amerika.
Bahan pembuatan Twinkies hampir persis seperti adonan kue pada umumnya, yaitu gula, terigu, telur, air dan garam. Proses pembuatannya dimulai dari pencampuran bahan-bahan adonan kue tersebut. Adonan kue selanjutnya disemprotkan kedalam loyang cetakan menggunakan alat depositor untuk memastikan kue yang dihasilkan memiliki ukuran yang sama. Kinerja alat ini dicek secara berkala melalui pengambilan dan pengukuran berat dari sampel adonan. Standar berat adonan yang telah ditetapkan adalah sebesar 33-34 gram. Adonan kue yang dicetak selanjutnya dipanggang, lalu dilewatkan ke mesin cream filler setelah matang. Mesin ini berfungsi untuk menginjeksi kue dengan krim vanilla melalui tiga buah injector atau needle.
![]() |
| Twinkies. Sumber: amazon.com |






































